Pelajaran Hidup dari Kisah Masa Kecil
Pelajaran Hidup dari Kisah Masa Kecil

Pelajaran Hidup dari Kisah Masa Kecil

Pelajaran Hidup dari Kisah Masa Kecil

Masa kecil merupakan masa yang tidak akan pernah bisa kita ulang kembali, ketika kita sudah beranjak remaja. Saat mengingat masa kecil mungkin kita akan senyum-senyum bahkan tertawa sendiri. Membayangkan kepolosannya, banyak hal konyol bahkan hal tak terduga yang dilakukan anak kecil, baik itu di sengaja maupun tidak.

Kenangan masa kecil merupakan yang paling indah dan sulit untuk di lupakan. Apa pun kejadian masa kecil pasti akan membekas sampai dewasa, terlepas itu kenangan yang menyenagkan ataupun sebuah peristiwa yang kadang bersifat traumatik. 
Bahkan sekarang, ketika kita tengah bercengkerama dengan teman-teman kita, tak jarang kita menyinggung tentang masa lalu dan akhirnya saling bercerita tentang kisah masa kecil. 

Terkadang Tanpa kita sadari sepenuhnya, ketika kita bercerita kisah yang menyenangkan, kita nampak begitu bersemangat dengan pancaran mata yang berbinar-binar. Dengan lepas kita saling menertawakan kisah-kisah masa kecil kita yang lucu. Kita larut dalam cerita teman kita, seolah kita telah merasakannya bersama-sama. Meskipun nyatanya kita memiliki kisah yang berbeda-beda. 

Begitupun juga ketika mendengar kisah yang menyedihkan, kita pasti juga akan ikut sedih. Tapi tentunya kisah sedih jarang diungkit. Takut keterusan sedihnya, yang awalnya ketawa bareng bisa jadi nggak lucu kan kalau entar malah tangis-tangisan bareng.

Tidak dipungkiri ternyata banyak hal tentang kehidupan yang dapat kita pelajari dari masa kecil. Misalnya, yang pertama, Saat kecil kita tidak akan pernah lupa untuk meminta izin kepada orang tua ketika akan pergi keluar rumah, meskipun hanya bermain ke rumah tetangga sebelah. Bahkan kita tidak akan pergi sebelum mendapat izin. Dimana pun keberadaan orang tua pasti akan tetap di cari hanya untuk meminta izin. Jika tidak di izinkan, ya, kita tidak akan berani pergi. Karena hal itu merupakan sebuah bentuk kehormatan kita terhadap keberadaan orang tua. 

Selain itu, juga agar apa yang kita lakukan selalu di mendapat perlindungan dari allah swt atas ridho dari orang tua sekalipun hanya bermain. Seperti yang disebutkan pada hadits Nabi SAW, yang berbunyi :

عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya : Dari Abdullah bin ‘Amru bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda : “keridhoan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Seharusnya kita bisa mengambil pelajaran dari hal itu, bukannya kita yang sudah remaja ini justru melakukan hal yang sebaliknya. karena kebanyakan remaja justru menunggu orang tuanya tidak di rumah dahulu, baru kemudian pergi ke tempat tujuan mereka tanpa minta izin. Bahkan terkadang meskipun sudah meminta izin tetapi tidak di izinkan, mereka tetap membantah dan memilih tetap pergi keluar.

Kedua, saat kecil kita cepat melupakan masalah dan memaafkan. Ketika kita bermain tentunya pernah mengalami perselisihan, walaupun itu hanya disebabkan oleh hal yang sepele. Tak jarang juga sering terjadi adu badan antara anak laki-laki, yang berakhir dengan mengadu pada orang tua masing-masing. 

Kalau cewek sih biasanya cuma saling adu mulut aja karena berebut sesuatu yang akhirnya juga sama-sama nangis. Tetapi perselisihan itu tak sampai berlarut-larut. Salah satu dari mereka akan minta maaf terlebih dahulu tanpa merasa gengsi. Dan yang satunya akan memaafkan dengan lapang dada. Mereka begitu cepat memaafkan dan bermain kembali tanpa dendam. 

Tidak seperti remaja jaman sekarang, bertengkar hanya karena berebut pacar, saling mengolok-olok, atau hanya sekedar salah faham saja. Tidak ada yang mau mengalah dan meminta maaf terlebih dahulu. Kebanyakan dari mereka merasa gengsi jika meminta maaf terlebih dahulu. Yang akhirnya jadi musuhan dan menyimpan dendam dalam waktu yang relatif lama bahkan ada juga yang selamanya. 

Dari hal itu dapat kita pelajari bahwa perselisihan yang cukup lama tidak akan membawa kedamaian hati untuk kita, yang ada hanyalah kebencian dan dendam. Sebisa mungkin kita harus meminta maaf terlebih dahulu tanpa adanya gengsi dan memaafkan orang yang berbuat salah.

Ketiga, saat kecil kita tidak pernah merasa minder dengan diri sendiri, apa adanya dan jujur terhadap perasaanya. Di dalam kehidupan anak kecil tidak ada kata minder, mereka selalu percaya diri untuk pergi bermain dengan teman-temannya. Mereka tidak pernah mempermasalahkan tubuhnya, bagaimana wajahnya, penampilannya, dan lain sebagainya. Sekalipun bajunya kotor ataupun berlubang karena dimakan tikus, mereka tidak terlalu memperdulikan. Mungkin hanya di tertawakan dan di ledek saja (walaupun sebenarnya itu juga kurang baik) tetapi, itu sebagai ekspresi atas kejujuran perasaan mereka. Bahkan anak yang mengalaminya juga larut tertawa bersamaan tanpa merasa malu ataupun gengsi. 

Berbeda dengan remaja saat ini, minder adalah masalah yang dialami oleh mereka apabila merasa apa yang ada pada dirinya tidak sempurna. Jika kita terus menuruti rasa minder itu, kita tidak akan mendapat apa-apa dari kehidupan ini, kita hanya akan menyesali keadaan kita. Oleh karena itu, ubah pola berfikir kita. Jangan sampai terlalu fokus kepada kekurangan kita sehingga kita melupakan kemampuan kita yang masih harus terus di asah.

#AyoBernostalgia
OLEH : SILVIA PANGASTIKA (KELAS XI) (PIMPINAN IPM MAM WATULIMO)

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.