Aku dan Kehidupanku yang Lenyap
Aku dan Kehidupanku yang Lenyap

Aku dan Kehidupanku yang Lenyap

Aku_dan_Kehidupanku_yang_Lenyap

Maaf untuk semua, Mungkin ini yang terakhir, aku tak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji akan mengubah hidupku lebih baik lagi, dan mulai detik ini aku akan membantu kalian yang membutuhkan. Aku bukan orang yang sombong, angkuh dan tak mau peduli dengan sesama seperti aku yang dulu”

Itu adalah janjiku yang kutulis dalam buku diary, aku menangis ketika membacanya lagi. Seketika aku teringat masa-masaku dulu ketika orang tuaku sangat kaya raya. Dulu papa adalah pengusaha batu bara di Kalimantan, sementara mama adalah tipe-tipe ibu sosialita yang sibuk arisan dan jarang dirumah, disini aku tinggal bersama pembantu kepercayaan mama. Bukanya sombong, aku sekolah di sekolah internasional dan disini aku mendapatkan banyak teman yang kebanyakan berasal dari anak kaya. Aku termasuk jajaran anak popular di sekolah, aku sering keluar malam, bahkan dulu pergaulanku sudah begitu tidak terkendali.

Sebenarnya semau itu bukan keinginanku, aku ingin diperhatikan, aku ingin mereka mengerti aku. Aku ingin kalian memperhatikanku bukan hanya karena harta, harta dan harta. Sebab ada kesepian dalam hatiku, aku merasa seperti orang yang tak berguna yang hanya dititip-titipkan. Hari itu papa dan mama pulang, dan sudah sangat ku hafal, mereka sedang bertengkar, pasti masalah harta lagi. Sampai-sampai aku bosan dan tak memperdulikan mereka, aku langsung mengambil kunci lalu pergi mengendarai mobil. Mereka memandangku dengan tatapan yang aneh, namun aku tetap tak memperdulikannya. Aku segera naik mobil dan memacunya di atas rata – rata, aku memakirkan mobilku di dekat danau, ini adalah tampat favoritku ketika sedang suntuk. Tiba-tiba ada pengemis kecil yang meminta uang padaku, lalu aku bilang “sampai kapanpun aku tak peduli pada kalian, aku saja tak pernah ada yang memperdulikan ngapain juga peduli pada orang lain” pengemis kecil itu tersenyum manis “kak masih banyak yang peduli sama kakak, kakak aja yang kurang ngerti” pengemis kecil itu pergi. “Apa maksudnya coba dasar aneh”, gumamku.

Setelah fikiranku agak tenang, aku pergi ke cafe kecil dekat danau tersebut, rasanya aku lapar sekali. Setelah makan sebaiknya aku segera pulang, sebab hari sudah menjelang petang. Rumah sepi bagai kuburan saja, “papa sama mama kan tadi pulang masa udah berangkat lagi” begitu fikirku. Tauuukkk ahhh masa bodo meningan tidur gk penting mikirin mereka.

Hari ini Minggu begitu menyenangkan bagiku, waktunya shopping, hari ini sengaja aku tak membawa mobil dan memilih menaiki bus. Langsung yang kutuju adalah pusat perbelanjaan. Akupun mulai berkeliling keseluruh sudut pusat perbelanjaan, setelah semua barang yang aku inginkan terambil aku membawanya ke kasir, berniat untuk membayar. Aku menyerahkan kartu kredit dan begitu tersentak diriku ketika kasir mengatakan semua kartu kreditku telah terblokir. Aku syok berat, “bagaimana bisa sich”. Tiba- tiba handphone-ku berbunyi ada nama papa dan aku segera mengangkatnya.
“halo pa”
“halo nak, bagaimana kabarmu ?”
“baik kok pa, kok semua kartu kreditku gak ada yang bisa diginakan ?”
“naa… itu yang mau papa omongin sama kamu kemarin, tapi kamunya papa panggil - panggil nggak nyaut”
“emang ada apa pa?”
“jadi gini, semua asset papa disita sama bank, termasuk semua fasilitas yang papa berikan sama kamu” papa menghela nafas sebentar. “papa sekarang ini masih dalam pelarian dan mamamu pergi entah kemana, kamu hati-hati ya nak dan jaga dirimu baik-baik” aku hanya diam syok dengan semua kejadian ini, begitu cepat kenikmatan ku terenggut.
Setelah mendengar, semua penjelasan papa akupun pergi keluar mall tanpa membawa barang yang sebelumya telah ku ambil, isi dompetku pun hanya KTP dan beberapa lembar uang. Aku berjalan tak tentu arah, aku bingung  mau kemana, aku duduk disebuah taman. Kulihat banyak orang mulai dari anak-anak hingga mereka yang sudah lansia.

Pengemis kecil yang aku temui waktu itu tiba-tiba mendekat “haduh mau apa kamu dek, kakak udah nggak punya apa-apa lagi sekarang, kakak udah miskin, kalau mau ngemis jangan ke kakak ya…”
“ihhh…. Kakak negative thinking mulu sama aku, aku nggak lagi ngemis kok kak. Kakak ngapain disini, sendiri lagi?” si kecil itu mulai bertanya-tanya padaku. “kakak bingung mau kemana dek, rumah kakak disita, kakak udah gak punya apa-apa lagi”
“hmmmm…. Bagaimana kalau kakak tinggal dirumahku aja kebetulan aku tinggal sendirian”
“keluargamu pada kemana dek?”
“ibu,bapak sama kakaku udah meninggal karena kecelakaan,” kulihat raut mukanya berubah sendu dengan mata yang suyup.
“maaf ya dek kakak gak bermaksud” namun seketika raut wajah nya berubah menjadi ceria “gak apa-apa kak sekarang aku udah punya kakak baru yeyyy, ayo kita kerumah kak” aku pun ikut pulang beramanya.

Aku banyak bercerita di sepanjang perjalanan ternyata namanya Feri, tak lama berselang kami sampai rumahnya. Rumah ini sederhana tak ada apa apanya dengan rumahku dulu, aku-pun menempati kamar kakaknya, meskipun terlihat agak seram juga sih, kamar itu terlihat kusam karena lama tidak ditempati. Ketika sedang asik- asiknya mengamati kamar, tiba- tiba ada yang mengetok, aku membukannya, dan muncul wajah Feri dengan muka cengengesannya, hingga aku sampai tertawa melihatnya.

“haduh kak jangan ketawa-ketawa melulu, kakak udah sholat belum ?” aku tak tau harus menjawab apa, sebab jujur saja aku belum pernah melaksanakan apa itu yang namanya sholat, aku sama sekali tak mengerti, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum.

Sebenarnya aku sedikit penasaran  apa yang disebut sholat jadi aku menanyakannya pada Feri. Ketika ia sudah  selesai sholat, “fer sholat itu apa sih?” dia mengernyitkan dahi, heran “ kakak muslim kan?” aku hanya mengangguk “kakak bercanda ya…?, ihhh masak nggak tau sih kak, sholat itu salah satu kewajiban seorang muslim, yaitu cara kita untuk berkomunikasi kepada sang pencipta Allah Swt. Kita bisa bercerita apa saja yang telah kita jalani, dan memohon untuk diberi sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya, bahkan kita bisa meminta sesuatu kepadanya dan masih banyak lagi manfaat sholat” aku bingung kemudian kusampaikan kepada si anak itu “kalau gitu ajari kakak sholat ya”, “dengan senang hati aku mau ajari kakak, nanti aku kenalkan dengan guru ngajiku, kakak bisa bertanya banyak hal”.

Selama aku sebulan tinggal bersama Feri aku banyak belajar ilmu agama, mulai dari sholat sampai sedikit bisa mengenal cara membaca iqro’. Ternyata orang yang tidak kita perhatikan malah membuat kita lebih baik lagi. Trimakasih Ya Allah engkau telah memberikan jalan pada hambamu ini.
Beberapa bulan bersama Feri aku bertemu taman yang sangat baik, dia meminjamiku untuk modal usaha. Aku membuka warung kecil-kecilan didekat rumah kecil itu, hasilnya lumayan, untuk makan dan membiayai sekolah Feri.

Kabar terakhir yang aku dapat, papaku masuk penjara dan mamaku menikah lagi. Banyak sekali pelajaran yang aku dapat atas semua kejadian yang aku hadapi. Bagiku kehidupan yang serba mewah dan mudah bukan berarti puncak segala kenikmatan, aku malah menemukan arti dan nikmat hidup yang sebenarnya ketika bertemu Feri dan semaki mendekatkan diri kepadaNya.

(UMMU HABIBATUS S-TIMRED ALIYAHMU MEDIA)

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.