Gerakan Literasi di MAM Watulimo dalam Sebuah Catatan
Gerakan Literasi di MAM Watulimo dalam Sebuah Catatan

Gerakan Literasi di MAM Watulimo dalam Sebuah Catatan

Gerakan_Literasi_di_MAM_Watulimo_dalam_Sebuah_Catatan
Watulimo pagi itu cerah, dimana jalanan ramai dengan lalu-lalang kendaraan saling berpacu dengan waktu. Setelah semalaman mencoba membaca kembali mengenai bacaan Jurnalistik yang telah lama saya tinggal, pagi itu dengan mengendari sepeda motor tua saya berkesempatan bertamu ke MAM Watulimo. Sesuai jadwal undangan yang saya terima, pada hari Sabtu tanggal 3 September 2017 saya mendapat tugas memantik diskusi dengan beberapa siswa MAM Watulimo dengan mengambil Materi Jurnalistik. Tentu menyebut kegitan ini sebagai sebuah diskusi adalah sebuah sikap bahwa saya sebagaimana siswa MAM Watulimo yang memiliki posisi setara, yaitu sama-sama masih belajar dan berproses.

Dengan menempuh beberapa kilometer dari rumah, pada pukul 09.00 WIB saya sampai di Sekolah yang berada di Desa Gemaharjo tersebut. Pemandangan pertama yang saya dapat ketika masuk lingkungan sekolah adalah semangat siswa yang tercermin lewat kegiatan olahraga. Melewati pemandangan tersebut, saya yang sedikit tergesa-gesa bergegas menuju ruang guru untuk bersilaturahmi dengan para guru sebelum akhirnya dijemput oleh siswa perempuan yang belakangan saya kenal dengan nama Siska L. Fadila yaitu ketua IPM MAM Watulimo.

Memasuki ruang diskusi yang berada di lantai dua, terlihat siswa-siswi telah mengisi kursi peserta yang disusun dengan posisi melingkar. Adapun acara tersebut diikuti oleh sekitar 19-an siswa yang terdiri dari beberapa tingkatan dengan kualifikasi siswa yang menggemari dunia literasi. Tema yang diambil dalam diskusi tersebut juga tergolong menarik yaitu“ Membangkitkan Jiwa Literasi untuk Generasi Berkemajuan”. Sampai titik tersebut setidaknya menurut hemat saya sebagai pemantik diskusi, MAM Watulimo sedang mengakumulasi energi sebagai bekal menuju generasi yang berkemajuan. Sebuah upaya menuju gerbang kemajuan dan perubahan yang dapat dicapai dengan mengoptimalkan pengembangan kemampuan siswa di dunia tulis-menulis dan juga pemanfaatan media sosial.

Kegiatan diskusi di MAM Watulimo dengan mengulas Materi Jurnalistik tersebut setidaknya berjalan kurang lebih selama tiga jam. Dengan durasi waktu tersebut, selain penyampaian materi diskusi juga cukup berkesan dengan hadirnya pertanyaan dan kesan-kesan mengenai sulitnya siswa dalam menulis. Hal pertama yang saya tangkap dari beberapa pertanyaan siswa adalah rasa ingin tahu mengenai dunia tulis menulis. Selain itu, adanya semangat intelektual yang mulai muncul dari siswa tingkat menengah atas mengenai bagaimana caranya memunculkan gagasan adalah nilai plus dari diskusi ini.

Setidaknya menurut catatan saya, ada beberapa pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh MAM Watulimo sebagai upaya meningkatkan kemampuan siswa-siswinya mengenai dunia literasi. Sebelumnya Pelatihan Jurnalistik pernah dilaksanakan dengan melibatkan pemateri dari penggiat literasi nggalek.co yaitu Misbahus Surur dan Trigus Dodik Susilo. Selain kegiatan peningkatan wawasan pada dunia literasi yang bersifat pelatihan macam tersebut, MAM Watulimo mampu memberikan ruang bergerak dan berproses bagi siswa-siswi nya melalui aliyahmu.com. Sebuah kanal berita yang menurut hasil wawancara saya dengan beberapa peserta diskusi tidak jarang menampung beberapa tulisan dari siswa-siswi baik berupa tulisan liputan kegiatan maupun sastra. Sebuah akumulasi gerakan pendidikan yang setidaknya mampu mengiplementasikan teknologi terapan sebagai media yang mampu meningkatkan kemampuan dan SDM siswa-siswinya.

MAM watulimo setidaknya melakukan sebuah lompatan dalam memberi bekal ekstrakulikuler, dimana kita tahu bahwa pendidikan sejak awal memang ditempatkan sebagai investasi jangka panjang (long term investation). Sehingga dengan merujuk pada kegiatan yang dilaksanakannya tak lebih dari sebuah sikap dan kesepakatan bahwa pembekalan pendidikan bagi setiap generasinya adalah sebuah modal dan persiapan menciptakan generasi penerus yang mandiri dan mampu menguasai zamannya.

Berangkat dengan kesepakatan tersebut, semangat yang hari ini dilakukan oleh MAM Watulimo sebagai salah satu lembaga pendidikan adalah mempersiapkan generasi yang cakap dan berdaya saing. Dengan bekal pendidikan yang diberikan diharapkan setiap pribadi mampu mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang lebih universal. Dengan demikian maka pendidikan adalah sebuah usaha sadar yang diberikan dengan tujuan menyiapkan pribadi yang mandiri, dinamis, dan terampil guna mencapai tujuan hidup.

Catatan tersebut, saya tulis sebagai upaya saya mengingat bahwa saya sebagaimana kalian yang harus terus bergerak dan belajar. Sementara saya berproses menjadi bagian dari masyarakat , sedangkan kalian sedang menikmati tempaan pengetahuan di ruang-ruang sempit bernama “kelas”. Sebuah proses  mencari bekal masa depan sebagai generasi penerus. Semangat

Tulungagung, 19 September 2017

(ALIYAHMU MEDIA-DIAN MEININGTIAS)*
*Penulis, Aktivis Mahasiswa Islam, Mantan Ketua Umum LPM DIMENSI IAIN Tulungagung

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.