Redaksi aliyahmu.com: Jangan Jual Hak Demokrasimu dengan Bayaran
Redaksi aliyahmu.com: Jangan Jual Hak Demokrasimu dengan Bayaran

Redaksi aliyahmu.com: Jangan Jual Hak Demokrasimu dengan Bayaran

Redaksi_aliyahmu.com:Jangan_Jual_Hak_Demokrasimu_dengan_Bayaran
Setiap daerah di Indonesia pasti mempunyai pemimpin diantaranya, gubernur, wali kota,dan bupati. Nah, untuk memilih pemimpin tersebut maka pemerintah pusat melalui KPU mengadakan pemilihan langsung yang disebut sebagai pesta demokrasi bagi rakyat dalam satu daerah tersebut. Pemilihan ini disebut dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA).

Pilkada ini dilakukan secara langsung dengan memenuhi syara-syarat yang berlaku setiap 5 tahun sekali atau satu periode. Seperti saat ini, hiruk pikuk pilkada serentak sudah mulai terasa, padahal masih sekitar 4 bulan lagi hari pemilihannya. Pilkada serentak ini dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia, tepat pada tanggal 27 Juni 2018. Publik akan kembali diuji untuk memilih pemimpin daerahnya dengan harapan akan membawa perubahan. Sehingga suhu politik di tanah air kian menghangat menjelang pesta demokrasi ini. Setidaknya harapannya adalah pilkada bertujuan untuk menciptakan pemerintah daerah yang efektif dan efisien.

Rata-rata di setiap daerah ada 2-3 pasangan calon yang bertarung ketat memperebutkan kursi kekuasaan. Seperti di Provinsi Jawa timur ini, ada 2 pasangan calon yaitu, Syaifulloh-Puti bertarung dengan Khofifah-Emil.

Setiap pasangan calon biasanya maju dari jalur politik/diusung partai politik. Bagi penulis, tak banyak pemimpin yang berhasil tanpa besarnya modal yang dihabiskan mulai tahap pencalonan. Tim sukses yang nakal biasanya didorong untuk bekerja dengan cara-cara tidak baik yang tentunya akan berujung pada kampanye hitam untuk menarik dan mendekatkan kepada pemilih.

Terkadang mereka akan menempatkan spanduk-spanduk di tempat yang stategis. Mungkin spanduk-spanduk di pinggir jalan yang sering kita jumpai menyajikan progam, janji dan bentuk lain yang mengandung optimisme tinggi. Bahkan tak jarang visi misinya sampai melampaui batas logika berfikir seseorang. Uniknya para pemilih juga tertarik dengan kata-kata manis "gombalan-gombalan" sehingga seolah-olah calon kepala daerah bagaikan manusia super yang bisa menuntaskan semua harapan sesuai bunyi dan kalimat pada spanduk tersebut.

Lebih parahnya lagi beredarnya politik uang "money politic" begitu marak terjadi. Politik uang ini kemungkinan masih akan menghantui pesta demokrasi kedepan. Kerawanan politik uang terindikasi pada pemberian uang kepada pemilih agar mau memilih pasangan calon tersebut. Modus politik uang pun kini kian beragam. Timbulnya masalah ini pasti ada faktor yang melatarbelakangi, diantaranya lemahnya komitmen memegang keimanan, lemahnya komitmen memegang nilai dan norma serta keinginan untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan dengan cara yang kotor.

Lantas pemimpin seperti apakah yang pantas kita pilih?? kita sebagai pemilih harus bisa membaca karakter seorang pemimpin.

JANGAN HANYA MEMANDANG SELEMBAR UANG MERAH, DAN MENJUAL HAK DEMOKRASI KITA. JADIKANLAH MOMEN PILKADA KALI INI SEBAGAI LANGKAH MENUJU MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK.


(ALIYAHMU MEDIA-RICA C)*
*Timred aliyahmu.com siswa kelas X MAM Watulimo

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.