Masyarakat Dukuh Plapar Menjadi Santri
Masyarakat Dukuh Plapar Menjadi Santri

Masyarakat Dukuh Plapar Menjadi Santri

Masyarakat Dukuh Plapar Menjadi Santri

Ketika mendengar Dukuh Plapar saya teringat pada isi kultum yang pernah disampaikan oleh seorang tokoh desa. Waktu itu suasana Ramadhan sedang hangat-hangatnya terasa, sehingga ceramah di mushola dilakukan silih berganti dengan mengangkat tema-tema menarik untuk membangkitkan ghirah syiar agama Islam. Isi ceramahnya bisa saja tentang kondisi kampung tersebut ketika diawal-awal masuknya Islam.

Tema yang diangkat sang tokoh kala itu, adalah sebuah cerita turun temurun dari sang ayah tentang usaha ayahnya berdakwah di Dukuh Plapar. Ia menceritakan bahwa sang ayah melakukan pendekatan dengan masyarakat yang masih miskin mengerti tentang Islam. Hal tersebut tercermin dari kegiatan sehari-hari mereka yang jauh dari nilai-nilai ajaran Islam.

Istilah dukuh sendiri menunjuk pada wilayah bagian dari sebuah desa. Desa pada umumnya terdiri atas beberapa dukuh. Dukuh Plapar sendiri masuk Desa Watulimo, letaknya jauh dari jalan besar yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Jika ingin mencapai wilayah ini, orang biasa menempuh dengan jalan kaki, ataupun bersepedah. berjarak kira-kira 3 km dari kantor kelurahan setempat.
Dukuh Plapar dikenal masyarakat sebagai wilayah yang penduduknya gemar berburu babi hutan. Mereka beragama Islam, tetapi tidak mengenal ajaran Islam, kecuali dalam batas yang sangat sederhana, misalnya, berkhitan, nikah dan tatkala meninggal dunia mereka memberikan sentuhan-sentuhan agama. Karena kurang begitu mengenal agama, maka mengkonsumsi daging babi hutan menjadi biasa bagi warga Plapar, demikian pun berjudi, mabuk-mabukan, dan bergantian isteri juga dianggap hal yang tidak tabu.

Praktik lain agama islam yang selalu berjalan di masyarakat adalah ketika anak-anak lelaki mereka menginjak usia belasan tahun. Mereka melakukan khitanan. Begitu pula ketika melangsungkan pernikahan, mereka juga mengikuti ajaran Islam. Mereka mengundang pejabat pencatat nikah yang dipanggil dengan sebutan Naib. Pejabat Kantor Urusan Agama (KUA), yang biasanya berkantor di tingkat kecamatan tersebut tak jarang juga mengalami kesulitan tatkala menikahkan mempelai berdua. Biasanya sebagai pertanda mereka beragama Islam sekaligus agar dapat dilayani prosesi pernikahan secara Islam, maka naib harus menuntun mereka mengucapkan dua kalimah syahadat. Namun sebatas mengucap syahadah ini mereka selalu mengalami kesulitan, karena memang tidak terbiasa diucapkan. Tidak ada rangkaian informasi yang jelas tentang awal mula ajaran Islam masuk di wilayah ini. Kaum santri biasanya disebut sebagai kaum putih, sedang masyarakat Plapar disebut sebagai kaum merah.

Memperoleh gambaran masyarakat Dukuh Plapar seperti itu, umumnya kaum santri yang bertempat tinggal di luar Dukuh Plapar tidak mau mendekat. Sebagian kaum santri bahkan menganggap orang Plapar sebagai orang yang tidak beragama, pemakan daging babi, penjudi, peminum dan seterusnya. Sekalipun tidak pernah terjadi konflik di antara kedua kelompok yang berbeda ini, namun karena jurang paham ini mereka tidak saling berkomunikasi secara intensif. Diantara mereka hanya merasa bukan kelompoknya, sebab mereka masing-masing memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda. Bahkan jika kaum santri ada urusan dan harus datang ke Dukuh Plapar biasanya mereka lakukan dengan hati-hati, agar tidak disuguhi makanan yang mengandung daging babi.

Gambaran tentang kondisi masyarakat tersebut diceritakan oleh si tokoh desa dengan rinci dan runtut. Sehingga menurutnya, strategi sang ayah yakni dengan memperlakukan mereka sebagai masarakat yang memerlukan penghormatan, artinya tidak pernah menyakiti masyarakat setempat, baik dengan cara menyindir dengan kata-kata, apalagi mengolok-olok. Sang ayah itu selalu melihat mereka sebagai masyarakat yang belum mengerti, sebab mereka butuh dididik dengan cara sebijak mungkin.
Sang ayah selalu berpendapat bahwa sekalipun yang dilakukan mereka jauh dari ajaran Islam, tetapi karena keterbatasan pengetahuan agama, maka bagi mereka itu sudah dipandang benar. Oleh karena itu, meskipun berusaha mengajak ke ajaran Islam dengan berbagai rasionalisasi yang menurut kita benar, mereka pun tidak akan dapat langsung menerima. Sebab, apa yang mereka lakukan selama ini diperoleh dari leluhur yang yang bagi masyarakat Plapar sangat dicintai dan dihormati. Merubah pandangan hidup mereka, jika tidak dilakukan secara hati-hati atau bil hikmah, maka akan dimaknai sebagai tindakan tidak sopan terhadap para leluhur mereka.

Usaha yang lebih tepat untuk mengubah masyarakat ini adalah alkulturasi. Ayahnya tidak pernah mengubah secara drastis dan total kebiasaan mereka. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan mereka itulah, sedikit demi sedikit digunakan untuk media mengenalkan faham tentang Islam. Suatu misal, di Plapar ini terdapat kebiasaan melakukan bersih desa, kenduri atau selamatan dengan berbagai sesajen, sang ayah tidak pernah menyuruh mereka berhenti menjalankan kebiasaan itu. Akan tetapi justru melalui kebiasaan itu, ia mengenalkan ajaran Islam secara bertahap, sedikit demi sedikit. Dalam sesajen yang terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan, sang penyiar agama tersebut selalu diminta tampil untuk memberikan penjelasan maksud kenduri diselenggarakan, dan hal tersebut digunakan untuk menyelipkan sesuatu yang mengarah pada ajaran tauhid. Sedemikian lembut dan samarnya penjelasan itu, sehingga mereka tidak terasa bahwasanya alam pikiran mereka sedang dipengaruhi dan diubah. Ayahnya selalu memberikan penjelasan, bahwa tidak mungkin mengubah masyarakat dengan cara tergesa-gesa, apalagi secara frontal. Kata dia, yang diubah bukan fisik melainkan kawasan hati atau keyakinan.

Kerja ulet dan telaten yang dilakukan oleh para da'i, ternyata berbuah hasil. Sekarang Dukuh Plapar sudah berubah secara total. Di dukuh itu saat ini sudah ada masjid dan madrasah. Tidak ada lagi orang membawa tombak dan anjingnya ke hutan untuk berburu babi hutan. Orang-orang Plapar saat ini ketika menjelang malam, berbondong-bondong datang ke masjid untuk sholat berjama'ah. Di sana-sini terdengar suara adzan tatkala waktu sholat tiba. Demikian pula bacaan Al-Qur'an dengan mudah didengar dari berbagai tempat, baik dari rumah maupun masjid. Perubahan itu terjadi, karena para da'i menempuh cara yang tepat dalam berdakwah. Mereka tidak menjauh dari masyarakat, tetapi justru mencoba menghargai, menghormati dengan cara berpikir layaknya berfikirnya orang Plapar.

Hasilnya, orang Plapar menjadi simpatik dan akhirnya mengikuti seruan para da'i, sehingga menjadi muslim taat. Melalui kegiatan idul fitri, berzanji dan juga tahlil, lama kelamaan orang Plapar menjadi santri. Apalagi, kegiatan kesenian yang bernafas Islam juga dikembangkan. Dakwah kultural seperti ini kiranya yang justru diperlukan agar syiar ajaran agama Islam berhasil dan bukan untuk menakut-nakuti atau mengancam.

OLEH: ZAKI ALIMUDIN (SISWA KELAS XII)

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.