Remaja, Antara Berharga dan Bahaya
Remaja, Antara Berharga dan Bahaya

Remaja, Antara Berharga dan Bahaya

Remaja, Antara Berharga dan Bahaya

Manusia senantiasa mengalami pertumbuhan dengan melewati beberapa fase. Hal tersebut dapat diamati baik secara fisik ataupun psikis. Memahami tumbuh kembang manusia  dalam setiap fasenya  memang tidak sederhana atau tidak bisa sekedar melalui pengamatan mata. Manusia mempunyai perasaan dan jiwa yang selalu mengalami letupan yang bahkan tidak terencana sebelumnya. Salah satu rangkaian fase kehidupan manusia yang sering mengalami inkonsistensi emosi adalah  remaja.

Remaja adalah proses manusia menuju dewasa atau biasa disebut jembatan antara fase usia anak ke fase usia matang, yang lazim disebut masa pubertas. Masa remaja mengalami perubahan baik fisik, psikis dan biologis (sex). Akibat dari gejala pubertas tersebut maka sifat keingintahuan mereka akan tumbuh meningkat. Sehingga jika tidak ada kontrol dan pengetahuan yang cukup, maka sangat memungkinkan hal tersebut malah menjerumuskan mereka ke arah kegiatan-kegiatan negatif. Pergaulan remaja yang buruk karena pengaruh lingkungan sekitar menjadi faktor utama perilaku remaja menjadi demikian. Akhirnya kesadaran terhadap kewajiban mereka menjadi rendah, seperti halnya kurangnya rasa cinta dan kebanggan terhadap tanah air yang akhirnya membuat mereka kehilangan ruh spirit perjuangan bangsanya.

Bentuk kemerosotan perilaku remaja bisa dicontohkan di daerah Trenggalek, khususnya Watulimo, meskipun tidak semua tapi masih terdapat sebagian kecil kelompok remaja yang lebih suka berhura-hura dibandingkan melakukan sesuatu yang lebih berguna.  Bagi penulis, mestinya mereka (se)harus(nya) tahu batasan dari seorang remaja dan akibat dari semua perbuatannya kelak. Miris sekali ketika melihat sebagian remaja setingkat SMP sudah menggunakan narkoba ataupun terpaksa menjadi ibu atau ayah dari anak diluar nikah, sehingga seketika cita-cita dan angan yang mereka impikan hilang akibat dari ragam pergaulan yang amoral tersebut. Masa depan Indonesia akan hancur ketika muda-mudinya rusak, sebab kekuatan bangsa ini kedepan berada di pundak dan isi kepala remaja saat ini.

Ketika penulis berkunjung ke salah satu tempat wisata Watulimo, tepatnya di Pantai Prigi, banyak terlihat di sepanjang pantai berjejer muda-mudi dengan pasangan masing-masing dan sikap seolah-olah tidak menghiraukan orang yang lalu lalang di depannya, entah mereka sudah menikah atau belum. Bahkan banyak diantara mereka yang belum melepas almamater seragam sekolahnya. Memang, kondisi zaman sekarang ini, pacaran (dipaksakan) bisa dikatakan lazim, tapi ketika mereka melakukan sesuatu diluar batasan norma agama dan adat ketimuran, itu yang membuat potensi karakter bangsa kita kedepan akan hancur. Bahkan yang lebih buruk lagi ketika mereka pergi tempat-tempat sepi di sudut keramaian dan melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan oleh muda-mudi yang belum menikah. Ungkapan setia atau cinta para remaja dijadikan alasan, kemudian dengan mudahnya mereka melakukan hal-hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri. Sehingga tanpa mereka sadari perbuatannya telah merusak masa depan mereka dan negerinya.

Kontrol dari keluarga, khususnya orang tua sangat diperlukan untuk mendidik agar mereka tahu bahwa hal-hal tersebut adalah salah. Sebab melalui perhatian dan komunikasi yang intensif serta pengarahan bakat yang tepat akan membuat remaja menjadi kekuatan yang potensial bagi kelangsungan generasi bangsa. Penanaman cinta tanah air dan patriotisme akan semakin membuat mereka lebih menghargai negara tercinta kita ini. Semoga ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk selalu waspada dan berhati-hati dalam melangkah.

Kita sebagai remaja harus menjadi manusia yang berharga, bukan sebagai marabahaya!

OLEH: DADE ANGGA SETIAWAN (SISWA KELAS XII)

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.