Kecerdasan Perempuan, Penentu Keberlangsungan Bangsa
Kecerdasan Perempuan, Penentu Keberlangsungan Bangsa

Kecerdasan Perempuan, Penentu Keberlangsungan Bangsa

Kecerdasan_Perempuan,_Penentu_Keberlangsungan_Bangsa
Perempuan telah mengalami kemajuan yang signifikan dari masa ke masa.Terlebih ditengah era mileneal, dimana semua serba instan dan tidak lepas dari peran digital. Dilihat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, politik perempuan telah menunjukkan kapabilitas yang tdak bisa dipandang sebelah mata.

Sudah kita ketahui bersama jika tidak ada lagi diskriminasi seperti zaman Kartini. Ataupun anggapan jika anak perempuan adalah aib keluarga seperti pada zaman Jahiliah. Bahkan sudah jelas jika Islam memuliakan perempuan. Sebagai calon ibu pelahir sekaligus pendidik generasi ia begitu berjasa lagi mulia bagi keberlangsungan suatu bangsa. Selain itu negara perlu memberi perlindungan dan wadah kemudahan bagi optimalisasi aspirasi serta kapabilitas perempuan di berbagai aspek kehidupan.

Suatu fakta jika perempuan disebut sebagai pilar peradaban. Kita tidak bisa menutup mata pada realita hidup calon generasi selanjutnya di era mileneal. Dimana racun teknologi bak nutrisi bagi mereka setiap hari. Akan menjadi kekhawatiran jika tidak ada pembenteng dari segi karakter dan spiritual bagi embrio penentu arah bangsa ini kedepan.

Benarpun jika keluarga adalah pembentuk karakter pertama bagi anak.Tetaplah peran perempuan (Ibu) lebih dominan dalam hal ini. Adanya kelebihan rasa yang dimiliki perempuan inilah salah satu faktor penguat ikatan batin antara ibu dan anak. Sehingga apapun yang ada pada diri sang ibu akan memiliki efek pada jabang bayi yang dikanding. Syukur jika sang ibu adalah sosok perempuan dengan karakter yang baik.Jika tidak?

Padahal "Turunan kecerdasan (intelektual) pada anak itu lebih dominan ke Ibu, sedangkan tampang lebih cenderung ke bapak."Ungkap Danik Eka R.Psi.Mantan ketum PP IPM dalam Pelatihan 3 Bidang PW IPM JATIM (Probolinggo,05/06/18). Itulah mengapa seorang perempuan tidak boleh membatasi diri. Namun dengan catatan harus memahami batasan diri (kodrat) sebagai wanita, apalagi jika sudah terikat tali pernikahan.

Pada nyatanya tidak ada larangan bagi perempuan untuk berekspresi, mengoptimalisasikan segala potensi yang ada. Selagi bisa dan masih dalam batas wajar serta tidak menyalahi norma dan Syariat Islam. Bahkan di era mileneal ini perempuan dituntut untuk bisa mandiri.Tidak melulu bergantung kepada laki-laki untuk beberapa hal. Dalam artian perempuan harus memiliki keahlian yang bisa diandalkan.

Dalam lingkup rumah tangga sekalipun perempuan memiliki keahlian, jabatan, bahkan gaji lebih dari pada suami hal demikian itu tidaklah ditujukan untuk menyombongkan jika istri lebih hebat dalam mencari nafkah. Tetaplah nafkah adalah tanggung jawab suami. Sebab pada hakikatnya kita tidak akan pernah tau lewat siapa Allah menurunkan rizkinya. Entah suami, istri, maupun anak.

Kemandirian, kecerdasan segalan yang melekat pada perempuan yang notabenenya sebagai calon ibu menjadi sangat penting. Perempuan turut menentukan bagaimana generasi era selanjutnya akan terbentuk. Perempuan memang benar-benar mengemban tugas sebagai pilar peradaban.Tentu dengan tantangan dinamika zaman yang lebih kompleks.

Syair arab mengungkapkan."Al -Ummu Madrosatul Ula iza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq"
Ibu adalah sekolah utama. Bila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik

(ALIYAHMU MEDIA-SISKA FADHILA)*
*Ketua Redaksi aliyahmu.com

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.