Cerita Pejuang Muda si Pemalas
Cerita Pejuang Muda si Pemalas

Cerita Pejuang Muda si Pemalas

Cerita_Pejuang_Muda_si_Pemalas
Jipratan cahaya mentari menyelinap di celah-celah jendela kamarku. Kelopak mataku terbuka dengan perlahan. Kicauan burung- burung di luar, seakan mengajakku memulai aktivitas.

Tersentak kaget aku melihat jam dinding sudah pukul 07.00. Segera aku beranjak meninggalkan tempat tidur. Hari ini aku tidak boleh terlambat. Ya, karena hari ini adalah hari dimana aku mengikuti seleksi Brigadir Penolong SMA. Seleksi ini diadakan selama satu minggu kedepan. Sebisa mungkin aku harus lolos untuk menjadi bagiannya.

Suara ocehan tanpa titik atau koma terdengar begitu jelas di telinga ku. Setiapa pagi Ibu selalu mengomel bahkan memarahi ku, karena kebiasaan ku yang bangun kesiangan. Namun semua itu aku hiraukan begitu saja, tanpa rasa salah sedikitpun pada diriku.

Usai sudah aku bersiap- siap dan berkemas untuk pergi. Ku hampiri ayah dan ibu yang sudah menunggu untuk sarapan bersama di meja makan. Namun aku sungguh terkejut ketika ku buka pintu kamar, ibu sudah berdiri dengan kondisi sedang marah. Perasaan ku seakan mengatakan jika sebentar lagi pasti aku akan kena marah. Ternyata dugaan ku tidak meleset.

"Jam berapa ini Bagasss? Kenapa masih baru bangun! Dasar anak pemalas! Gak tau waktu. Kalo kamu gak bisa disiplin dengan waktu, mau jadi apa kamu? Sama dirimu sendiri saja gak bisa disiplin, gimana mau baik kedepannya?" Sahut ibu ku.

Tanpa menjawab sedikit pun, aku hanya diam saja seperti patung.

" Sudah. Pergi sarapan sana,terus langsung berangkat."tegas ibu ku.

Aku hanya menganggukan kepala saja dan pergi ke meja makan. Setelah sarapanku bersama keluarga kecilku selesai, aku berpamitan untuk pergi. Saat ku lihat jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul 07.45. Segera ku ambil langkah seribu kaki menuju tempat parkir sepeda ku.

Dengan kecepatan maksimum aku mengendarai, seakan tidak peduli dengan keselamatan nyawa ku di jalan. Tepat pukul 08.30, aku sudah sampai di tempat.

Bersyukur tiada henti, karena telah diberi keselamatan tiba di tempat tujuan. Selain itu aku bersyukur karena acara nya belum di mulai. Segera mungkin aku menuju lapangan untuk mengambil barisan dengan yang lain. Kebetulan dengan itu,aku bertemu dengan seseorang teman.
Dia Edo Sucipta, anak seorang TNI yang juga menjadi peserta dalam acara ini.

"Hai. Kamu baru tiba ya? Nafas kamu berat seperti habis lari saja" kata Edo.

"Oh,iya aku baru sampai. Tadi aku bangun telat,jadi aku keburu-buru kesini.

Kamu siapa ya?" tanya ku padanya.

"Oh iya kenalin, aku Edo. kamu sendiri siapa namanya?", balas Edo.

"Kenalin. Aku Bagas." Jawab ku padanya.

Tak lama terdengar suara dari pengeras suara, bahwa upacara akan dimulai. Para peserta dengan sigap merapikan barisannya masing-masing. Kurang lebih dua jam upacara pembukaan dilaksanakan. Namun di sela-sela acara, terdapat sambutan dari Ketua Pimpinan. Beliau merupakan sosok yang di segani di medan latihan tersebut, karena sifatnya yang berwibawa, berjiwa sosial dan ada satu hal yang paling di sukai, beliau juga memberi wadah para pelajar dan pemuda pemudi di luar sana dalam membantu pembangunan bangsa.

"Anak-anakku penerus generasi bangsa. Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi dalam seleksi Brigadir Penolong SMA yang kalian ikuti dilakukan dengan suportivitas yang tinggi.  Saya berharap kalian bisa menjadi generasi pemuda yang membawa bangsa ini maju. Ingatlah! Kemajuan bangsa Indonesia ini ada di tangan pemuda." Sahut Bapak Ketua Pimpinan.

Entah kenapa, pikiran ku melayang kesana kemari. Seakan-akan menyadari semua itu ada benarnya. Bangsa yang maju atau tidak itu tergantung kepada pemuda generasi selanjutnya.

"Tahukah kalian, Jika kalian adalah pemuda yang suka bolos sekolah, malas-malasan, tidak disiplin dengan waktu dan segala aturan atau bahkan pecandu obat dan minuman keras. Bangsa ini kedepannya akan tertindas oleh perilaku pemuda nya" Lanjut beliau.

Setelah cukup lama berdiri, akhirnya selesai sudah upacara pembukaannya. Para peserta kemudian dipersilahkan beristirahat di tenda yang sudah disediakan. Aku melangkah menuju tenda yang sudah disediakan. Aku tercengang karena aku satu tenda dengan lelaki yang baru ku kenal waktu di lapangan, si Edo. Sebenarnya aku merasa nyaman berteman dengan dia. Edo sangat ramah dan juga berhati lembut.

" Ehh,ketemu lagi dengan kamu kawan" Sapa Edo

" Ohh, iya. Gak percaya kalau kita bakal tinggal di satu tenda" Jawabku.

Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari pengeras suara petugas. Dari pengeras tersebut terdengar bagi para peserta dipersilahkan untuk istirahat dan bersantai merilekskan diri pada hari ini dan kegiatan akan dimulai besok pagi. Mendengar hal itu, aku dan teman-teman ku satu tenda langsung melaksanakan perintah tersebut. Ada yang telpon dengan temannya, bermain catur,bahkan ada yang menyantap bekal yang dibawa dari rumah.

Hari ini berjalan begitu cepat. Menjelang malamnya, para peserta di bariskan di lapangan untuk apel malam. Disitu para peserta diberi pengarahan mengenai kegiatan besok. Semua peserta dituntut untuk disiplin. Bangun lebih awal,tidak boleh terlambat mengikuti pelatihan dan harus rapi dalam berpakaian. Tak lama kemudian para peserta dipersilahkan kembali ke tenda nya masing-masing untuk istirahat.

Sang mentari pagi menyinari begitu terangnya. Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti kegiatan disini. Teman-teman ku sudah siap untuk kegiatan hari pertama di sini. Berbeda dengan diriku yang masih tidur dengan begitu nyenyaknya. Edo teman baru ku berusaha membangunkan aku, tapi aku tak merespon sedikit pun.

"Bagas, Bagas. Ayo bangun. Nanti terlambat lho, Teman-teman yang lain sudah siap kegiatan. Cepat bangun!" Ujar Edo.

Tapi aku tak merespon usahanya. Mungkin karena ia jengkel, Edo meninggalkan aku begitu saja. Ya, inilah aku. Tak memandang kondisi atau apapun, sulit sekali jika dibangunkan. Tak lama kemudian,  tiba-tiba senior ku mendatangi ku ke tenda. Dia memarahi ku dan mengolok-olokan aku.

"Hei! Masih sempat-sempatnya tidur. Bangun sana! Dasar pemuda pemalas." cetus senior ku.

Tanpa berkata sedikit pun,aku langsung lari menuju kamar mandi dan bersiap diri untuk kegiatan. Di luar tampak teman-teman ku menyindir aku dengan kata pemalas, tukang bangkong dan lain-lain. Aku sungguh malu dengan olok-olokan mereka semua kepada ku.

Demikian juga dengan hari kedua. Kebiasaan ku bangun telat belum bisa teratasi. Sampai aku di siram air sama senior ku. Tak terima dengan perlakuan nya seperti itu,aku berontak dan memaki-maki dia.

"Hei! Lho jangan seenaknya sama orang. Senior macam apa kamu itu. Bisanya cuma ngatur sana-sini. Emang sini anak buah lho apa!" kata ku dengan emosi.

Temanku yang ada didekat ku berusaha menahan diriku agar tidak terjadi perkelahian.
"Eh,,ehh. Masih baru di seleksi saja udah berani sama kita. Kalau gak mau di siram pakai nih air,jangan molor bangun nya. Patuhi tuh aturan yang ada!" tegas senior itu padaku.

"Sudah-sudah. Sekarang kamu pergi. Siap-siap sana" Sahut Edo

Aku pergi meninggalkan semua nya. Hati ini sungguh emosi sekali. Tapi semua itu berusaha aku reda kan, karena aku disini untuk orang tua ku. Bukan untuk senior kejam itu.

Keesokan hari nya, hari yang ke tiga ada suatu keajaiban menghampiri diriku. Seperti mimpi, pada saat itu aku bangun lebih awal daripada teman-teman ku. Mungkin aku terbangun lebih awal karena tak bisa tidur memikirkan semua perkataan seniorku tadi. Ya,sepertinya aku harus berusaha bangun pagi dan disiplin.

Cukup lama merenung, aku berjalan ke kamar mandi untuk bersiap-siap diri untuk kegiatan. Setelah itu,aku menyiapkan sarapan untuk diriku dan juga teman-teman ku. Disaat semua teman ku bangun, mereka semua kaget seakan tak percaya dengan ini semua.

"Ini gak mimpi kan? Kamu tumben sekali pagi-pagi sudah bangun" Tanya teman ku

"Iya nih. Gak kayak biasa nya. Suka molor bangunnya. Hahahah" Ejek si Edo

"Kalian ini, bukannya malah bersyukur. Ehh malah di cemoh sana-sini." Sahutku pada mereka

"Hahaha maaf. Oh ya,itu sarapan buat kita juga kan?" tanya teman ku

"Oh iya,ini sengaja aku masak untuk sarapan kita semua. Yuk, kita makan! Keburu kegiatan nanti." Jawab ku.

Kami semua menikmati makan pagi sambil bercengkerama menceritakan senior kami yang galak dan judes itu.

Hari demi hari kami lewati dengan penuh penderitaan. Bagaimana tidak, hari ke empat banyak peserta sekolah lain yang memutuskan pulang karena tidak kuat dengan ujian yang dilakukan. Cukup membuat badan sakit semua. Kami di uji mulai dari fisik luar seperti berguling-guling di lumpur, push up 50 kali, lari 100 meter, sebanyak 20 putaran dan lain-lain hingga mental. Sungguh memilukan, seperti pelatihan angkatan militer saja. Sebenarnya bagi ku tidak seberapa uji fisik dibandingkan dengan uji mental. Aku sendiri juga sempat tidak betah dengan ujian mental yang diberikan. Tapi aku harus bisa menjadi yang terbaik. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Kalau aku pulang dengan alasan tidak betah, pasti aku akan direndahkan oleh mereka.

Hari berjalan begitu cepat. Dan inilah hari terakhir aku untuk diseleksi. Sedikit rasa lega, karena telah berhasil mengikuti semua seleksi ujian yang di berikan dengan lancar. Kini hatiku terasa berdegub kencang. Bagaimana tidak, hari ini adalah pengumuman kululusan pada seleksi yang telah dijalani.

Namun aku percaya dengan pepatah bahwa usaha keras tak akan mengkhianati hasilnya. Tak lama kemudian terdengar dari pengeras suara yang menyuruh bagi peserta untuk berbaris rapi di lapangan.

Begitu cepat semuanya berbaris dengan rapi. Inilah yang ku tunggu-tunggu. Satu persatu nama disebutkan oleh Kepala Brigadir. Jantung ku makin berdegub dengan keras. Seperti orang yang mau nembak seseorang saja. "Haduhhh..."

Sekian lama mendengarkan dengan teliti, karena begitu banyaknya peserta lolos dalam seleksi ini. Tak kusangka, ternyata nama ku terlontar begitu jelas. Bersyukur tiada henti, aku telah lolos dan terpilih untuk seleksi lanjut yang diadakan tahun depan. Selanjutnya bagi peserta yang terpilih dipersilahkan maju ke podium. Sungguh sangat bangga hatiku pada saat ini. Namun saat aku akan kembali ke barisan, ada yang menepuk pundak ku. Aku kaget ternyata yang menepuk pundak ku adalah senior yang melatihku. Dia adalah orang yang pernah memarahi aku di tenda karena aku belum bangun juga menyiram ku dengan air.

"Maaf jika aku selama ini kasar sama kamu. Semua ini aku lakukan atas perintah pemimpin untuk mendidik semua peserta agar disiplin dan bertanggung jawab. Aku harus menyadarkan generasi pemuda seperti kamu dan teman-teman mu yang lain, kalalu kemajuan bangsa ini ada di tangan kalian" kata senior ku.

Mendengar hal tersebut, aku bukannya benci atau kesal padanya. Tapi aku malah berterima kasih kepada dia karena telah mendidikku menjadi pemuda yang peduli dengan keamanan,persatuan dan kemajuan bangsa ini di mata dunia.

"Iya, tidak apa-apa. Aku malah berterima kasih pada kakak. Berkat kakak aku bisa berubah seperti sekarang ini. Dan mungkin kalau kakak tidak mendidik ku dengan keras, aku tidak akan bisa lolos  seleksi ini" Jawab ku padanya dengan bibir tersenyum.

"Sukses untuk seleksi lanjutan tahun depan. Semoga segala usahamu dan perjuanganmu kedepannya bisa membawa bangsa ini maju dan dikenal banyak kalangan" Sahut dia padaku.

Aku tersenyum dan meng-iya-kan semua tutur katanya. Terdengar suara tepuk tangan begitu ramai, hingga seakan memecahkan gendang telinga. Semua bangga atas perolehan hari ini. Aku sekarang paham.

Jika pemuda diluar sana banyak yang melenceng dari segala aturan, suka malas-malasan, enggan belajar, bahkan menjadi pecandu barang terlarang, mungkin bangsa iki akan tertindas dengan polah para generasi penerusnya. Dengan demikian, aku sangat termotivasi untuk terus melangkah dan memajukan bangsa ini.

Ibarat kutipan Ir. Soekarno " Berikan aku 10 pemuda. Akan ku goncangkan dunia".

Namun pada hal ini aku berkutip "Berikan kami kesempatan. Akan kami maju kan bangsa ini di mata dunia".



(ALIYAHMU MEDIA-FIDHA ALJAZIRA)*
*Siswa Kelas XI MAM Watulimo

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.