Bu Ketu : "Saya Undur Diri Dari Ketua IPM MAM Watulimo"
Bu Ketu : "Saya Undur Diri Dari Ketua IPM MAM Watulimo"

Bu Ketu : "Saya Undur Diri Dari Ketua IPM MAM Watulimo"

Bu_Ketu: "Saya_Undur_Diri_Dari_Ketua_IPM_MAM_Watulimo"
Regenerasi dalam sebuah organisasi adalah suatu hal yang lazim terjadi pada tiap batas akhir periode Kepemimpinan. Proses Regenerasi inilah yang kelak akan lahir dan nampak rupa generasi penerus  pergerakan sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan yang baru. Seperti Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) MAM Watulimo yang pertengahan bulan ini melaksanakan Regenerasi Kepengurusan, dikemas dalam permusyawaratan tertinggi tingkat ranting yakni Musyawarah Ranting (MUSYRAN). Dimana wajah-wajah lama akan berganti dengan wajah baru penentu titik keberhasilan IPM Aliyah satu periode kedepan.

Dua periode kepemimpinan bersama mereka disetiap langkah pergerakan IPM Aliyah membuat saya cukup enggan untuk melepasnya.Walaupun tidak dipungkiri, rasa lega dan enteng karena tidak lagi disibukkan dengan berbagai kegiatan IPM Aliyah yang kerap menguras fikiran,waktu dan tenaga cukup mendominasi hati. Namun, momen kebersamaan dalam tiap perjuangan dan pengorbanan dalam menyiapkan berbagai kegiatan sederhanan khas IPM Aliyah begitu membekas. Katakanlah saya rindu, rindu untuk kembali bergelut dengan segala kepanikan-kepanikan tak terduga yang diselingi canda tawa. Serta rindu dengan mereka yang kerap memanggil saya "Bu Ketu" memang mereka teman seperjuangan di IPM Aliyah.

Lhoh kok sampai dua periode? ya begitulah akibat dari rasa sayang mereka terhadap saya yang terlalu over (hahahaha ke-PD-an gaess). Sungguh qodarullah yang menetapkan kiprah saya di Ikatan tercinta ini  untuk memegang tongkat estafet Kepemimpinan IPM Aliyah setelah Ipmawan Ade Rizqi. Mimpi apa saya sebelumnya? tidak ada angin tidak ada hujan saya dijadikan calon kandidat IPM Aliyah Periode 2016-2017 disejajarkan dengan empat kandidat lain dari kelas XI. Terkejut dan merasa belum layak itu pasti, bagaimana pula lha wong saya saja kala itu masih kelas X, termasuk masih kaku menjadi siswi MAM Watulimo.Walaupun sebenarnya belum tentu juga saya yang terpilih tetapi saya rasa kandidat dari kelas XI cukup potensial dan memenuhi kriteria leader yang dibutuhkan waktu itu. Jadi mengapa harus mengambil kandidat tambahan dari Kelas X,yang bisa dikatakan masih dalam tahap adaptasi, pikirku.

Masih terekam jelas bagaimana saya berdiri didepan puluhan pasang mata siswa/i Aliyah untuk menyampaiakan visi misi jika seandainya saya menjadi Ketua IPM Aliyah. Nervous itu pasti, namun pengalaman beberapa kali berbicara didepan umum sudah cukup saya kantongi.Kala itu saya cukup syok melihat visi misi kandidat lain yang begitu singkat cukup satu hingga dua baris saja. Sedangkan saya sampai memakan setengah halaman lebih ukurang kertas A4. Walaupun saking banyaknya visi misi yang saya buat sempat membuat saya malu, tapi ya sudahlah toh bukankah setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda.

Pada akhirnya sekuat apapun saya menolak nyatanya hasil musyawarah memutuskan saya sebagai pemegang kendali Kepemimpinan selama satu periode kedepan. Ingin rasanya berteriak tidak siap dan lari saat itu juga, namun faktanya semua sudah tersaji didepan mata menunggu saya untuk menjalaninya. Ikhlas, ya tinggal ikhlas mengemban amanah serta sabar dalam menghadapi semua gejolak yang kelak pasti terjadi, toh juga banyak pihak yang mendukung dan mengarahkan. Satu keyakinan yang saya tanamkan dalam hati, jika amanah tak akan salah memilih pundak dan Allah akan selalu membersamai setiap hamba yang memiliki  niat baik.

Kepemimpinan periode 2016-2017, saya rasa merupakan fase yang menegangkan. Setiap harinya saya selalu berpikir keras bagaimana IPM Aliyah ini bisa satu langkah lebih maju dan maju. Mungkin kata spaneng cocok untuk menggambarkan bagaimana saya waktu itu. Karena jujur saja, amanah yang harus saya emban tidaklah mudah dan sebentar. Selain itu fakta jika saya adalah ketua umum IPM Aliyah perempuan pertama cukup menambah rasa berat terhadap amanah yang saya pikul. Belum lagi kepasifan beberapa pengurus membuat saya lagi-lagi harus sabar dan berusaha memaklumi, jika fenomena tersebut pasti terjadi dalam lingkup organisasi. Namun kepuasan tersendiri jika banyak hasil yang ditorehkan, tentu itu semua karena kesolidan seluruh pengurus dan dukungan penuh pihak sekolah.

Satu tahun telah berlalu, saya kira kiprah kepemimpinan saya sudah cukup sampai disini. Sekalipun hasil suara menunjukkan jika saya lolos 9 formatur, saya sudah membulatkan tekad untuk tidak maju menjadi Ketua Umum. Kenyataan jika banyak yang berani menjamin jika amanah Ketua Umum akan kembali jatuh kepundak saya, cukup membuat saya kalut. Anggaplah saat itu saya sedang galau, bagaimana tidak jika apa yang saya kalutkan benar terjadi. Saat musyawarah 9 Formatur terpilih,saat itu juga waktu terasa melamban seiring dengan  kekalutan yang saya rasakan. Antara berani mengambil amanah Kepemimpinan IPM Aliyah atau melepaskan dengan konsekuensi rapat tidak kunjung selesai.
"Sudah ambil saja, kamu lagi yang jadi ketua.Malah akan lebih mudah karena dari kepemiminan lalu kamu sudah lebih tahu IPM Aliyah itu seperti apa,dan periode ini mau diapakan".

Nasihat dari Waka Kesiswaan kala itu cukup membuat saya kembali berpikir jika amanah itu adalah tentang kepercayaan. Secara tidak langsung mereka menaruh harapan dan kepercayaan besar terhadap kapabilitas saya untuk menahkodai kembali IPM Aliyah Periode 2017-2018. Jika sudah demikian adakah alasan lain untuk saya menghindar?

Waktu berlalu kian cepat, tak terasa satu periode kembali sudah saya lewati. Rasanya masih sama ada manis, pahit, asin, gurih, pedas, nano-nano lah pokoknya, serta tidak jauh dari kata penuh perjuangan, problem, pengorbanan, kesabaran dan sebangsanya. Namun satu kesan yang berbeda dari peroide kepemimpinan sebelumnya, periode kedua ini lebih santai tidak terlalu spaneng. Bukan santai dalam arti sak karepe dewe, tapi ibarat bongkahan es sudah lebih cair, karena pengalaman periode sebelumnya sangat membantu.

Terhitung genap dua tahun saya berani memposisikan diri digarda depan dalam pergerakan IPM Aliyah, membuat saya kenyang akan makna perjuangan, keikhlasan berkorban waktu, tenaga dan fikiran, tentang makna sabar, kesederhanaan, terlebih tentang tanggung jawab terhadap suatu amanah. Selama dua periode itulah pasti banyak kekurangan yang diimbangi dengan kemenangan kemenangan kecil. Sungguh, terlalu banyak faedah dan segala suka duka selama menjadi bagian dari sepotong perjalanan panjang IPM Aliyah, yang mungkin tidak akan cukup jika dituangkan dalam selembar kertas. Tidak bisa dipungkiri jika selama ini IPM Aliyah turut mengambil peran penting dalam setiap detik proses pendewasaan dalam hidup saya,dan saya sangat bersyukur akan hal itu.

Sekali lagi, menjadi bagian dari IPM Aliyah adalah anugrah dan kesempatan luar biasa yang Allah tetapkan untuk saya. Setiap pemimpin pasti memiliki cara kepemimpinan yang berbeda, begitupula saya dengan cara kepemimpinan saya.Akhirnya,dari catatan ini,salam rindu untuk dua periode lalu IPM Aliyah dan selamat berproses untuk kepemimpinan selanjutnya.Tidak lupa, terimakasih untuk Bapak dan Ibu guru yang selalu mendampingi dan mengarahkan IPM Aliyah dalam berbagai hal. Memberikan masukan kepada saya, serta untuk teman-teman terimakasih atas kerjasamanya dan maaf jika kepemimpinan saya kurang berkenang dihati kalian.


(ALIYAHMU MEDIA-SISKA FADHILA)*
*Pimpinan Redaksi aliyahmu.com

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.