Seni inter-inter yang Mulai punah
Seni inter-inter yang Mulai punah

Seni inter-inter yang Mulai punah

Seni_Inter-inter_yang_Mulai_Punah
Sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan primer. Dalam kehidupan ini kita tak bisa lepas dari tiga hal tersebut. Bayangkan bila salah satu dari tiga hal tersebut tidak dapat kita penuhi. Eentah berapa lama kita dapat bertahan di situasi tersebut. Itu hanya perumpamaan, pangan merupakan suatu kebutuhan primer yang sangat penting, tanpa pangan kita tidak akan hidup selama ini. Berterimakasihlah kalian pada para petani yang telah menanam padi untuk pangan kita. Tapi, kita tengok pada zaman dulu, ketika tidak ada nasi (masa larang pangan), maka yang ada hanya singkong atau umbi-umbian.

Sebenarnya penulis disini ingin membahas tentang singkong. Sedikit berbeda pada tulisan kali ini, kita tidak akan membahas tentang singkong bakar, goreng atau singkong keju, disini kita akan membahas tentang Nasi Tiwul atau Sego Tiwul. Nasi tiwul bagi orang-orang Trenggalek pasti tidak asing, karena merupakan makanan khas dari Trenggalek. Tapi semakin kesini nasi tiwul mulai jarang dijumpai, sebagian besar anak-anak zaman sekarang  tidak suka dengan nasi tiwul atau bahkan asing dengan kata "tiwul".

Ketika penulis bertanya (survey kecil-kecilan) kepada anak-anak sekitar rumah yang berjumlah 10 anak dihasilkan bahwa hanya 10% anak yang mau makan nasi tiwul (hanya satu anak), sedangkan sisanya tidak mau bahkan  membuangnya. Jika terus dibiarkan seperti itu, maka tradisi makan nasi tiwul terancam punah. Padahal jika kalian mengetahui proses pembuatan nasi tiwul kalian tidak akan menyia-nyiakannya. Nasi tiwul memiliki arti tersendiri bagi pembuatnya, sebab pembuatannya tak segampang kita menanak nasi dari beras.

Pembuatan nasi tiwul memiliki proses yang lumayan rumit. Singkong harus dikupas dibersihkan lalu di jemur. Penjemurannya pun mengandalkan sinar matahari. Jika ingin nasi tiwul berwarna hitam sebelumnya harus di rendam selama kurang lebih 2 hari. Setelah singkong kering (menjadi gaplek) haluskan gaplek menggunakan alu atau lebih akrab dengan sebutan "ti deplok". Kenapa harus menggunakan cara tradisional, karena rasanya lebih nikmat dari pada menggunakan mesin selip. Setelah halus, ambil tampah lalu terapkan seni inter-inter, seni yang digunakan untuk membuat tepung singkong menjadi butiran bulat kecil sebesar kacang kedelai.

Katanya orang tua dahulu ada istilah, bahwa gadis yang belum bisa seni inter-inter belum boleh menikah. Orang zaman dahulu memang seperti itu kalau belum bisa membuat nasi tiwul belum boleh menikah, mau dikasih makan apa anak sama suaminya, begitu filosofi orang tua jaman dulu. Setelah di inter-inter lalu di kukus sama seperti mengukus nasi biasa. barulah jika matang nasi tiwul siap dihidangkan dengan sayur nangka muda (tewel) dan ikan teri/ kresek.. duhh nikmatnya.

Karena pembuatannya yang rumit orang-orang zaman sekarang jarang ada yang mau atau bahkan bisa membuat nasi tiwul. Apalagi inter-inter cukup susah dan proses inilah yang menentukan enak tidaknya nasi tiwul yang dibuat. Sekarang mereka memilih membeli tiwul instant atau tiwul oyek karena lebih praktis tinggal di kukus saja sudah bisa dimakan. Seni inter-inter harus dilestarikan karena sekarang yang bisa inter-inter adalah orang yang sudah tua. Jika tidak segera dilestarikan tidak ada lagi nasi tiwul, membuat oyek juga harus di inter-inter. Seni inter-inter memang sangat penting dan harus dilestarikan oleh generasi muda. Ayoo kita belajar seni inter-inter.

(ALIYAHMU MEDIA-UMMU HABIBATUS)*
*Alumni MAM Watulimo yang sat ini tengah menempuh study S1 di IAIN Tulungagung

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.