Alumni 1997: "Siswa MAM Watulimo Hanya 4 Orang"
Alumni 1997: "Siswa MAM Watulimo Hanya 4 Orang"

Alumni 1997: "Siswa MAM Watulimo Hanya 4 Orang"

Alumni_1997: "Siswa_MAM_Watulimo_hanya_4_Orang"
Memories it in MAM Watulimo, Trenggalek.
Namaku Yunarsih biasa dipanggil Yuni. Di MAM Watulimo aku masuk angkatan '97. Saat itu  bersama tiga temanku adalah anak pertama di MAM Watulimo, bisa dibilang angkatan pertama geiz.

Kalian mau tahu bagaimana kami yang hanya berempat bisa kuat bertahan selama 3 tahun? Ketika mau bercerita seperti ini dan ingat semuanya, jelas air mataku menetes, bagaimana tidak, aku juga alumni MTs Muhammadiyah Watulimo, ketika sudah lulusan bapak bilang "gak usah neruskan dak ada biaya yun". Saat dengar bahwa MAM dibuka akupun nekad dan diam-diam mendaftar dengan teman yang semuanya ada 26, dari berbagai wilayah dengan umur yang sudah pada dewasa

Aku masih ingat saat seragam kami awalnya juga bebas, memakai sandal jepit, tidak ada tas, hanya buku dan bulpen. Ruangan kami belajar dulu juga pernah digudang, bahkan dikantor MTsM (yang saat ini sudah digempur). Dengan gembiranya kami jadi bagian MAM Watulimo.  Sampai akhirnya kami hanya bisa bertahan dengan beberapa teman, karena banyak yang mengundurkan diri dengan alasan tidak telaten dan tidak krasan.

Ditahun kedua kami waktu itu bertahan 5 orang (saya, Nurhadi, Pujiwati, Edi Santoso dan Iwan) . Kami belajar bareng, dolan bareng, mbolos bareng (jangan ditiru, hehe) dan kemana-mana disekolah kami ya berlima, itupun dengan seragam warna-warni. bahkan aku nyari lusuran sragame (bekas seragam) anak MAN Trenggalek. Meskipun demikian tapi pak gurunyapun cuek aja. Mungkin fikirnya yang penting kami masuk sekolah saat itu.

Meskipun demikian aku juga pakai sepatu kalau di kelas, saat pulang pakai sandal jepit dan jalan kaki 1km setiap hari. Kami semangat menimba ilmu di MAM. Antara pak guru dan murid akrab seperti teman saat diluar kelas.

Masih ditahun kedua, teman kami Iwan sakit (saat ini Iwan sudah meningal dunia) dan Iwan sudah tidak mau sekolah lag di MAM Watulimo. Padahal si Iwan dia temanku yang paling rajin, praktis, disiplin dan paling pintar. Kami dan pak guru semua maklum dengan sakitnya, hingga ditahun ketiga kami bertahan 4 orang . Meskipun dibuli di maki-maki, ahhhh hal sepele itu kami bisa mengabaikannya.

Hingga akhirnya kami bisa ikut ujian, meskipun tahun itu kami masih ujian dititipkan di MAN Trenggalek. diantar pak guru, dicarikan kost. Luar biasa ya pak guru kami yg jumlahnya lebih banyak dr muridnya itu, hehe. Pernah kami mogok belajar dan malah memilih nyari lontong balap di Pak Ropi, meskipun kami gak dimarai, hanya disapa dengan eseman sindiran (saat nulis ini air mataku sudah bercucuran, teringat semua kenangan di Aliyah ku).

Guru kami luar biasa tlatennya, sampai (maaf) aku lupa menyebutkan nama-nama beliau, meskipujn demikian ingatan saya masih tajam untuk mengingati jasa tak terhingga kalian semua. Kalian sudah menggembleng kami jadi pribadi yang luar biasa. Saya pribadi mengakui itu, pendidikan agamanya membuat saya selalu ingat kalau saya adalah alumni MAM Watulimo. Membuat saya bisa kuat bertahan dengan tatakrama dan ajaran Agama Islam, pendidikan sosialnya memberikan saya banyak ilmu hingga saya menjadi bagian masyarakat saat ini. Selepas jadi alumni aku pernah jadi pengusaha bisa dibilang sukses, punya karyawan, punya murid binaan itu juga karena gemblengan bertahan saat sekolah di MAM ku ini.

Buat adik-adikku yang masih menempuh pendidikan di MAM Watulimo, kalian harus tahu, kami berempat menjadi orang-orang hebat. Kalian harus tahu karena MAM watulimo kami semua jadi manusia-manusia kuat agama, sosial dan bnyak hal. Selalu ingatlah perjuangan guru-guru mu. Lanjutkan tekad kami saat membangun MAM Watulimo mulai dari 4 orang. Demi bisa memeriahkan perpisahanpun, saat itu kami rela datang ke donatur minta sumbangan sampek panas-panasan. Untuk adik-adikku MAM semangatlah kalian, majukan sekolah kita, jangan main-main saja jangan permalukan kami dengan sikap kalian yang pernah saya lihat, kadang saya tahu kalian naik motor tidak sopan didekat sekolah, membuang sampah sembarangan, dan bolos.

Terus semangat dan lihatlah diluar sana alumni setelah angkatan kami juga banyak yang sukses, jangan malu jadi anak MAM, jangan rendah diri, seperti halnya  kami berempat yang begitu sangat bangga pernah menjadi bagian MAM Watulimo.

Terimakasih buat bapak/ibu gurunya, kami selalu berdoa buat MAM kami, bahkan almarhum Iwan juga akan bangga melihatnya. I love you MAM-ku.


(ALIYAHMU MEDIA-YUNI)*
*Alumni 1997 MAM Watulimo

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.