Surat Alumni MAM dari Bahrain (Part 2)
Surat Alumni MAM dari Bahrain (Part 2)

Surat Alumni MAM dari Bahrain (Part 2)

Surat_Alumni_MAM_dari_Bahrain(Part 2)
Sebenarnya merantau ke Bahrain bukan pilihan utamaku, bekerja dirumah dan memajukan kampung halaman mungkin akan lebih menyenangkan. Ceritanya kenapa terdampar ditempat ini adalah dulu awal 2016 setelah menamatkan pendidikan lanjutku di IAIN Tulungagung kota sebelah ada temen yang memberi informasi bekerja di kapal pesiar waktu itu aku sangat tertarik. Nah akhirnya mendaftarlah aku di sekolah kapal itu setelah 6 bulan belajar hingga lolos tes dan tahap selanjutnya berhubungan dengan biaya yang tidak sedikit. Namun karena terkendala biaya akhirnya oleh pihak lembaganya di arahkan ke restoran di Bahrain ini.

Setelah masuk bayanganku adalah kerjaannya enak, tidak terlalu berat, bisa nyantai ternyata malah terbalik 180 derajat. Bekerja di dapur sangat melelahkan dan banyak tuntutannya, tuntutan dari manajernya, belum lagi kalau ada kostumer yang komplain dan lain sebagainya. Bekerja di dapur rawan emosi, sumpah... luar negeri tak seindah foto facebook dan instagram teman-teman. . . Hehee, ada suka pasti ada duka. Namun pelajaran hidup ini mahal dan yang penting di jalani dengan semangat. Mangkannya kalau kita dimasakkan mari kita hargai ibu atau siapapun yang setiap hari memasak buat kita ya.

Memiliki teman kerja dengan berbagai latar belakang, beda budaya dan negara, diantaranya India, Pilipina, Nepal, Srilanka, Bangladesh, Pakistan, Mesir, dan Uganda memberi arti tersendiri.  Disamping itu juga ada tantangannya, terutama bagaimana cara berkomunikasi, mengenal mereka berarti mengenal budaya tempat mereka berasal yang secara tidak langsung memberikan informasi/tukar budaya.

Seperti di Bahrain ini contohnya, saat puasa Ramadhan menjelang berbuka masjid sampai pelatarannya akan penuh sesak para pemburu takjil, terlihat tumpah ruah maklumlah karena selama ramadhan setiap masjid menyediakan makanan gratis kepada semua orang. Orang non-muslim juga dipersilahkan, menunya juga enak dan bikin kenyang. Selain itu selama Ramadhan semakin malam tempat perbelanjaan dan pusat keramaian akan semakin terisi hiruk pikuk lalu lalang orang hingga menjelang imsak baru akan sepi.

Masjid-masjid disini selalu terkunci mulai jam sembilan malam ke atas, dilarang ada aktifitas apapun tanpa izin, jika melanggar maka akan diinterogasi polisi patroli dan rata-rata orang sini takut berurusan sama polisi. Disini disetiap titik-titik tertentu selalu tersedia mulai dari kotak sumbangan untuk pakaian bekas, freezer tempat makanan & minuman (siapapun boleh mengambil dan mengisi), dan juga kran air minum.

Meskipun negara ini mungkin luas areanya sama dengan se-karesidenan kediri tapi tempat ini cukup makmur. Apa -apa murah, waktu pertama kali tiba disini saya heran kok gak ada motor satupun dijalan raya meskipun ada satu dua tapi moge yang cc-nya 500 keatas ternyata karena alasan cuaca, bensin murah, harga roda 4 disini layaknya harga motor di indonesia dan tidak ada pajak kendaraan sama sekali, maka orang sini pilih roda 4 sebagai alat aktivitas mereka. Mungkin yang paling utama adalah alasan keamanan juga karena disini jika musim panas tiba bisa sampai 40 derajat dan itu panas sekali. Belum lagi kalau peralihan musim angin kencang, badai pasir disertai kabut debu yang menutupi pandangan itu sangat menyulitkan untuk beraktifitas.

Mungkin sampai dsini yang bisa aku bagukan ke teman semua, tetap semangat dan jangan lelah belajar. "Semanis-manisnya hujan emas di perantauan akan lebih nikmat tinggal dan bekerja di tanah kelahiran. Akan tetapi selagi masih muda, selagi punya waktu luang perbanyaklah pengalaman, perbanyak teman, jaringan, kunjungi tempat-tempat yang belum pernah di kunjungi karena semua itu lebih berharga dari uang".


(SAPTA IRAWAN)*
*Alumni MAM Watulimo 2008

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Aliyahmu.com adalah web resmi Madrasah Aliyah Muhammadiyah watulimo yang disingkat MAM Watulimo. Merupakan media kreatif hasil karya pelajar, guru dan persyarikatan untuk Masyarakat.